(bukan) Tutorial Melupakan
Sebab merelakan tidak pernah semudah mengucapkan kata rela.
Langkah pertama:
katanya, menyimpan kenangan di tempat terbaik adalah mengabadikannya.
Maka kini, kusimpan makanan favoritmu.
Tempat yang pernah kita datangi.
warna favoritmu.
dan semua tentangmu
ku abadikan dalam bingkai kenangan yang kusimpan rapi dalam sudut ingatanku.
Langkah Kedua:
Berhenti mengingatmu.
Tapi bagaimana bisa?
Jika cerita lucumu masih tinggal di dalam buku catatanku.
Cerita itu masih terus tinggal bersama harap dan doaku tentangmu.
Langkah ketiga:
berhenti merindukan senyumnya.
Aku sudah mencobanya.
Tapi mata sipitmu yang menyempit
setiap kali tawamu pecah
masih menjadi pemandangan
yang paling sering kutemui
setiap kali malam membuatku terjaga.
Caramu bermanja,
caramu bercerita tentang hari yang melelahkan,
caramu tersenyum seolah dunia
tidak pernah memiliki alasan untuk membuatmu sedih—
semuanya masih menjadi pemeran utama
dalam khayalku yang tak pernah meminta izin
untuk memutar ulang tentangmu.
Langkah terakhir:
katakan bahwa kamu sudah rela.
Maka aku berkata,
“Aku merelakanmu.”
Berulang kali.
Sampai kalimat itu terdengar seperti kebenaran.
Lalu ketika aku berkata,
“Semoga kamu bahagia bersama laki-laki barumu,”
aku berharap langit tidak cukup pandai
untuk menerjemahkan doa
yang sebenarnya ingin kusampaikan.
Sebab di balik kalimat itu,
ada bagian dari diriku yang masih bertanya,
mengapa bukan aku?
Katanya, mengikhlaskan adalah
menerima bahwa seseorang tidak lagi menjadi milik kita.
Tapi tidak ada yang memberitahuku
bahwa menerima kepergianmu
berarti harus berdamai
dengan kemungkinan bahwa
selamanya aku tidak akan lagi
menjadi tempatmu pulang.
Maka maaf.
Jika selama ini aku berbohong.