✨ Sebuah Pengakuan

(bukan) Tutorial Melupakan

Sebab merelakan tidak pernah semudah mengucapkan kata rela.

Langkah pertama: katanya, menyimpan kenangan di tempat terbaik adalah mengabadikannya. Maka kini, kusimpan makanan favoritmu. Tempat yang pernah kita datangi. warna favoritmu. dan semua tentangmu ku abadikan dalam bingkai kenangan yang kusimpan rapi dalam sudut ingatanku. Langkah Kedua: Berhenti mengingatmu. Tapi bagaimana bisa? Jika cerita lucumu masih tinggal di dalam buku catatanku. Cerita itu masih terus tinggal bersama harap dan doaku tentangmu. Langkah ketiga: berhenti merindukan senyumnya. Aku sudah mencobanya. Tapi mata sipitmu yang menyempit setiap kali tawamu pecah masih menjadi pemandangan yang paling sering kutemui setiap kali malam membuatku terjaga. Caramu bermanja, caramu bercerita tentang hari yang melelahkan, caramu tersenyum seolah dunia tidak pernah memiliki alasan untuk membuatmu sedih— semuanya masih menjadi pemeran utama dalam khayalku yang tak pernah meminta izin untuk memutar ulang tentangmu. Langkah terakhir: katakan bahwa kamu sudah rela. Maka aku berkata, “Aku merelakanmu.” Berulang kali. Sampai kalimat itu terdengar seperti kebenaran. Lalu ketika aku berkata, “Semoga kamu bahagia bersama laki-laki barumu,” aku berharap langit tidak cukup pandai untuk menerjemahkan doa yang sebenarnya ingin kusampaikan. Sebab di balik kalimat itu, ada bagian dari diriku yang masih bertanya, mengapa bukan aku? Katanya, mengikhlaskan adalah menerima bahwa seseorang tidak lagi menjadi milik kita. Tapi tidak ada yang memberitahuku bahwa menerima kepergianmu berarti harus berdamai dengan kemungkinan bahwa selamanya aku tidak akan lagi menjadi tempatmu pulang. Maka maaf. Jika selama ini aku berbohong.